Tanggung jawab negara pada pendidikan bukan hanya merumuskan kurkulum, melainkan juga melatih dan mendidik guru berdedikasi dan loyalitas pada peserta didik. Tugas mendidik tidak hanya mendoktrinasi ilmu dan siraman pengetahuan melainkan juga melatih siswa agar memiliki kepedulian kepada sesama.
Setelah sukses dengan Orang Miskin Dilarang Sekolah! (Resistbook, I, Juni 2004) dan Pengumunan: Tidak Ada Sekolah Murah! (Resistbook,1, Juli 2005) Eko Prasetyo kembali menghentak dunia pendidikan. Kali ini guru yang menjadi sorotan. Guru: Mendidik adalah Melawan. Adalah buku yang mengartikulasikan kebutuhan guru pada saat ini.
Melawan barangkali adalah sebuah keniscayaan bagi para guru. Sebab, peminggiran peran guru sangat mencolok. Kasus ujian nasional (UN) yang dilaksanakan pemerintah contoh peminggiran atas kerja keras guru selama bertahun-tahun. Guru yang mendidik berbagai macam pengetahuan, direduksi pemerintah melalui UN dengan mendasarkan aspek kognitif. Aspek psikomotorik dan afektif siswa tidak tersentuh.
Apakah ada sosok guru yang bisa di jadikan contoh sebagai guru yang melawan? Betulkah guru adalah profesi yang membahayakan? Eko prasetyo menampilkan Nurlela dan Retno Listyarti. Nurlela adalah guru SMPN 56 Jakarta yang melawan kuasa modal yang akan meminggirkan sekolahnya untuk diubah menjadi mall.
Sedangkan Retno Listyarti melawan kekuasaan politik Akbar Tanjung karena namanya di cantumkan dalam buku pelajaran sebagai studi kasus hukum bagi para siswa. Mereka adalah contoh guru yang teguh dengan pendirian guna melawan ketidakadilan. Sayangnya, mencari atau menemukan sosok guru seperti Retno dan Nurlela ibarat mencari jarum di tumpukan jerami (hal.9).
Buku ini menjadi tambah menarik dengan kehadiran komik dan karikatur guru. Ada karikatur ironis yang melukiskan guru yang merangkap sebagai tukang ojek, juru kampanye, dan ada juga guru yang mengajar dimana-mana.
Menurut Eko Prasetyo akibat pendidikan yang mengabdikan diri kepada pasar, sejak itu pula urusan pendidikan di ibaratkan atau telah sama dengan sekadar urusan eksport-import barang. Artinya, pendidikan diperlakukan sama halnya dengan sektor ekonomi. Sekolah sekadar penyalur sumber daya manusia yang diinginkan pasar.
Persoalan pendidikan, menurut Eko, sebenarnya berupa persoalan atau perdebatan tentang perumusan tujuan dan fungsi pendidikan atau sekolah dalam kaitannya dengan terkecuali para guru sebagai ujung tombak pendidikan.
Menurut penulis, di tengah realitas penindasan yang dialami para guru, serta diamnya organisasi guru, sudah saatnya guru berubah dari petugas administratif pandidikan menjadi aktor pergerakan demi kebangkitan pendidikan.
Eko memberi contoh Tan Malaka sebagai acuan guru yang melawan. Tan Malaka dalam berbagai penyamaranya kerap mendidik masyarakat. Tan Malaka selalu melatih para muridnya agar semakin matang dalam berpikir dan dewasa dalam bersikap dan bertindak.
Jika melihat judul yang digunakan, secara tegas Eko menggunakan kerangka disiplin pendidikan bertipe radikal. Bukan tipe konservatif yang cenderung mengarahkan guru untuk sekadar menyesuaikan diri.
Dengan prinsip pendidikan radikal ala Paulo Freire, Eko mengharap para guru tidak sekadar menjadikan anak didiknya sebagai sekrup sosial semata. Ia mendorong guru mendidik muridnya menjadi para pembaru dan pembebas masyarakat.
Eko hendak mengubah pemahaman bahwa mengajar tidak sekadar memindahkan pengetahuan. Mengajar adalah tugas politik. Mengajar itu secara inheren tersurat tugas menyadarkan para siswa bersikap kritis. Ia menghidupkan motifasi kepada siswa sendiri agar mau menjadi pemimpin, di segala bidang, dan tetap mampu bersikap jujur.
Sangat disayangkan beberapa argumen penulis, bukan berasal dari riset yang mendalam. Meskipun dalam penyusunan buku ini Eko melakukan wawancara. Terlihat sekali beberapa kliping koran menghiasi hampir setiap bab dalam buku ini. Meskipun demikian, Eko berusaha memberikan kesadaran melawan pada sikap dan perilaku guru yang demokratis. Melalui pendidikan progresif, sebagaimana tercermin dalam buku ini, secara perlahan para guru juga harus mengubah sistem didalam kelas.
Eva Rohilah


